Langsung ke konten utama

The birds and nest 🕊️

To Dearest,
Nandya Safira 🌻

Selamat pagi Nandya Safira, 
Ini pagi ke-298 sejak pertama kali aku mengucapkan sayang sama kamu, pagi ke-298 juga hubungan ini sudah kita bangun, dan pagi ke-298 juga saat aku dan kamu jadi kita.

Pagi ini aku tidak mau banyak membual dan membahas betapa sayangnya aku padamu, aku hanya ingin membuat cerita pendek fabel burung, layang-layang dan tiang pancang.

Layang-layang membutuhkan tiang pancang agar tetap tenang diatas awan dengan hembusan angin yang datang dari segala arah. 

Sekali dua kali tiang pancang agak goyah karena angin yang menerpa layang-layang terlalu kencang menerpa, tapi tiang pancang tetap di tanah walau goyah sekalipun.

Layang-layang berterima kasih atas kesabaran tiang pancang yang sekuat dan sesabar itu menjaga ketenangannya.

Namun, ada permasalahan yang muncul justru bukan dari angin yang selalu menerpa layang-layang sehingga membuat goyah tiang pancang, yaitu jarak.

Jarak itu diibaratkan dengan seutas benang yang menghubungkan keduanya, benang menjadi sangat penting untuk menyampaikan pesan dari layang-layang kepada tiang pancang, begitupun sebaliknya.

Sesekali benang tidak bisa menjadi menyampaikannya dengan baik, karena. Tiang pancang tidak tahu bagaimana cara menjadi layang-layang dan layang-layang pun tidak tahu bagaimana menjadi tiang pancang.

Sama seperti hubungan yang kita jalani ini. Aku, layang-layang dan kamu tiang pancang. Aku sering bermasalah dengan persepsi, yang diibaratkan angin. Namun, disitu ada kamu yang tetap menenangkan aku. 

Begitupun kamu yang kadang goyah saat persepsi aku lebih besar berpengaruh pada pemikiran aku tentang kamu. Namun sekali lagi, kamu tetap kuat.

Karena aku tidak bisa menjadi kamu, yang menganggap tidak pernah bisa membahagiakan aku. Dan kamu tidak bisa menjadi aku yang menginginkan kamu selalu sesuai dengan harapan aku.

Maka semua itu dirangkum menjadi satu kalimat, sabar dan mengalah ada batasnya, sedangkan pengertian tidak.

Untuk itu aku tidak akan mau menjadi layang-layang dan kamu tiang pancang nya. Aku mau kita jadi burung.

Pasangan burung yang menggunakan bahasa burungnya terbuka dan langsung menyampaikan apa yang ia ingin sampaikan. 

Burung yang membangun sarangnya bersama dengan segala rasa lelah,sabar dan ikhlas saat membuatnya, karena ingin membuat sarang senyaman mungkin sehingga tidak ada tempat pulang selain sarang itu.

Aku mau kita jadi cerita singkat itu, kita bisa melihat masalah secara luas, kita bisa saling support tanpa saling bergantung yang berlebihan karena sudah terpenuhi oleh rasa percaya dan pengertian.

Terima kasih atas pengertiannya sampai pagi ini dan aku harap seterusnya. Aku mau kamu and remember one thing, to care for you i always will.

Ur luv,
Demis ❤️


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Revitalisasi Alun-alun Banyumas

Rekreasi ke Landmark "Baru" Banyumas Tulisan Ikonik Banyumas yang menjadi daya tarik Masyarakat untuk berkunjung doc.pibadi BANYUMAS –  Libur panjang akhir pekan Isra Mi’raj, Senin (24/4) dimanfaatkan warga sekitar Alun-Alun Banyumas yang berada di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Untuk mengisi waktu liburannya di Alun-alun Banyumas, Tulisan ikonik Banyumas, aneka kuliner dan event besar yang diselenggarakan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang berkunjung. Kini warga dapat menikmati tempat refreshing dan murah meriah bersama keluarga dan orang terdekat. Setelah rampung pada pertengahan tahun 2016 melalui proses renovasi yang cukup lama Alun-alun Banyumas mulai men dapat tempat di hati ma syarakat. Bukan hanya karena faktor dekatnya jarak dengan kediaman namun adanya tulisan BANYUMAS yang dihias lampu LED merah yang ikonik membuat masyarakat yang cukup jauh tempat tinggalnya untuk datang hanya sekedar berfoto selfie di...

Separuh Purnama

Malam kian pekat saat aku menulis ini Malam kian tidak bersahabat karena dinginnya makin menusuk Malam kian meronta-ronta meminta rindu ini segera ada di peraduan Namun, Bicara soal malam, malam bukan lawan setara mu Malam tidak mampu mendinginkan hangatnya kecupmu yang masih terasa di hati Malam tidak mampu melumpuhkan nyanyian indah suaramu di sudut terpekat hatiku Iya, Kamu wujud penciptaan semesta permai yang indah dan hangat  Kamu wujud penciptaan yang ikhlas dan kuat Kamu, Nandya Safira sayangku tercinta Kita pernah ada di perang batin terkelam Kita pernah ada di drama romansa terburuk Kita pernah ada di badai tangis terparah Sejak saat itu,  Tersisa asa untuk kembali Syukurlah, semesta mendukung Kita bisa kalahkan ego, musuh terbesar manusia Aku, tidak pernah bosan untuk mendampingimu Aku, tidak pernah lelah untuk menyanjungmu Aku, tidak pernah menyerah untuk mengertimu Mengertilah, aku sayang kamu. Tersayang, Demis ❣️

Love

Dear, Nandya Safira ❣️ Mungkin kamu baca ini nanti setelah bangun tidur pagi setelah kamu lalui tidurmu yang penuh mimpi, yang bisa buat aku tersenyum dan aku tunggu tiap pagi. Aku, Chandra Demis, laki-laki yang 6 bulan terakhir ini menggantungkan hati dan harapan besar pada sosok kecil lucu yang sudah 4 tahun bersama dalam satu atap studi, sosok perempuan kecil ini pada awalnya aku kira sosok apatis dan musuh saat kita berkelompok. Namun, aku salah besar, aku sekarang justru ingin lihat sosok itu setiap aku terbangun dari tidur. Sosok itu kamu, Nandya Safira. Aku cukup beruntung bisa mengenal dekat kamu diakhir aku menjalani studi, kamu jawaban atas doa ku selama ini, doa aneh ku yang meminta seseorang spesial membawakan bouquet bunga untuk aku. Sampai akhirnya, aku jatuh cinta setelah "menemani" proses skripsi mu, ya, menemani. Aku tidak punya cukup mental untuk mengatakan kalau aku sedang mendekati mu, aku tidak cukup berani mengatakan bahwa aku pengganti "dia". ...